KESAKSIAN SURAT-SURAT AL QUR’AN TENTANG ISA ALMASIH
Tentang Siapa Al Masih itu, Al Qur’an pun bersaksi di dalam beberapa surat antara lain;
(1) Surat 114 An Naas: 1-3.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang bisa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.
Di dalam bacaan aslinya berarti:
Qul a’uzu bi rabbi an-nasi:
Qul : katakanlah
a’uzu : aku berlindung
bi rabbi : kepada Tuhan
an-nasi : manusia
Maliki an-nasi:
Maliki : raja
an-nasi : manusia
Ilahi an-nasi:
Ilahi : Sembahan
an-nasi : manusia
(2) Surat 5 Al Hadiid: 3.
“Huwal awwalu wal aakhiru wazh zhaairu walbaaithinu wa huwa bi kulli syaiin’aliim.”
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan yang Bathin dan Dia Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu”
(3) Surat 43 Az Zuukhruf: 63.
Dan taatkala Isa datang membawa terang Dia berkata: “ Sesungguhnya Aku datang membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian apa yang kamu perselisihkan tentangnya, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKu.
(4) Mutiara Hadits 2002 Jilid III no. 152:
Muhammad s.a.w berkata:
Nafsihi bi yadihi ‘isabnu maryama … … …
“nafasku ada di tangan Isa putera Maryam … … …
Bisakah anda bayangkan, kalau nabinya umat Islam sampai mengatakan bahwa nafasnya ada di tangan Isa Almasih, lalu bagaimana menurut anda dengan nafas seluruh pengikut-pengikutnya, kira-kira ada di tangan siapa? Dan kalau Isa Almasih (Yesus Kristus) memegang seluruh nafas kehidupan ummat manusia, apakah Dia hanya sekedar seorang Rasul atau Nabi, seperti banyak pendapat orang selama ini?
Jadi, siapa yang dimaksud dengan Tuhannya manusia, Rajanya manusia, Sembahan manusia, Yang Awal dan Akhir, yang datang membawa “terang” bagi seluruh ummat manusia dan yang kepadaNya kita harus taat?
Jawabannya tidak lain adalah Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu sendiri sebagai Firman Allah yang hidup; yang telah turun ke dunia (nuzul) dan menjelma menjadi seorang manusia.
Sekarang mari perhatikan Surat 5 Al Maa-idah:68.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan “Al Qur’an” yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”
Sebenarnya kata “Al Qur’an” yang ditulis di atas sangat tidak tepat; karena kalau melihat terjemahan dari bahasa aslinya berarti “apa-apa yang diturunkan kepadamu”. Tentu yang dimaksud dengan kalimat itu adalah Kitab Zabur (Mazmur), Kitab Para Nabi, Kitab Para Rasul dan Kitab Wahyu, yang kesemuanya itu terangkum di dalam 1 (satu) buku yang disebut Al Kitab; jadi bukan menunjuk kepada “Al Qur’an”, seperti yang ditulis di dalam terjemahan Al Qur’an terbitan Departemen Agama RI tahun 1989. Mengapa sampai bisa terjadi demikian? Wallahu alam, tanyakan saja pada Bapak Menteri Agama yang menjadbat saat itu! Beliau pasti bisa menjelaskannya.
Dari kesimpulan yang didapat melalui uraian-uraian ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits di atas, mari kita memperhatikan apa yang dikatakan oleh Al Kitab, karena Alkitab merupakan induk dari Al Qur’an yang memberi petunjuk kepada kebenaran dan ke jalan yang lurus; bahkan dikatakan bahwa Alkitab berisikan kebenaran Allh itu sendiri; seperti yang tertulis dalam:
(1) Surat 43 Az Zukhruf: 4
Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.
(2) Surat 46 Al Ahqaaf: 30.
Mereka berkata: “ Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”
Kitab-Kitab yang diturunkan sesudah Musa adalah Kitab Zabur (Mazmur), Kitab Para Nabi, Kitab Injil, Kitab Para Rasul dan Kitab Wahyu, dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Musa diduga salah satunya adalah Kitab Nabi Ayub; dan semua kitab-kitab tersebut dikanonkan (disusun) menjadi sebuah buku yaitu Alkitab, seperti yang ada sekarang ini; dimana Alkitab ini diakui dan disahkan oleh Gereja dalam suatu dewan resmi (Konsili) di akhir abad keempat, a.l.: Konsili Laodikia tahun 363M, Konsili Kartago tahun 397M, dan terakhir adalah Konsili Hippo tahun 419 M, yang meneguhkan konsili-konsili sebelumnya.
(3) Dan Surat 2 Al Baqarah: 176.
Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.
Ada banyak orang yang berpendapat bahwa Al Kitab yang ada sekarang ini sudah dipalsukan, dan pendapat ini dikemukakan untuk mencegah agar orang-orang yang belum mengerti Injil, jangan sampai mencari bahkan membaca apa yang telah tertulis di dalam Al Kitab; padahal telah dikatakan dalam ayat di atas, bahwa Al Kitab adalah sebagai kebenaran Allah itu sendiri; bahkan telah ditegaskan agar jangan berselisih tentang kebenaran Al Kitab, karena barang siapa berselisih tentang hal itu, akan jauh dari kebenaran. Barangkali mereka lupa atau kurang mengerti bahwa Allah itu sempurna dan FirmanNya juga sempurna. Apa yang telah difirmankanNya tidak pernah gagal dan keputusanNya tetap, tidak berubah-ubah; tidak seperti manusia yang keputusannya sering berubah mengikuti arah angin. Kalau Al Kita yang berisikan kebenaran Firman Allah bisa diubah oleh tangan manusia; alangkah hebatnya dia mampu memperdaya Allah, sehingga keputusanNya yang sempurna bisa dibelokkan oleh makhluk fana yang bernama manusia. Oh betapa lemahnya Allah kalau begitu; tetapi apakah itu memang demikian? Jangankan manusia, biar seluruh pasukan malaikat dikumpulkan, tidak ada satu pun yang berani, apa lagi mampu mengubah keputusanNya. Mungkinkah yang tidak sempurna mampu mengubah Yang Sempurna? Muhammad s.a.w sendiri jika berada dalam keadaan ragu-ragu, diperintah oleh Tuhan agar bertanya kepada Ahli Kitab dan jangan berdebat dengan mereka.
Hal ini nampak pada kedua ayat Al Qur’an di bawah ini:
(1) Surat 10 Yunus: 94.
Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
Siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang membaca kitab sebelum datangnya Muhammad s.a.w?
Ya ahli-ahli Al Kitab (ahli-ahli Taurat Yahudi dan orang-orang Kristen yang hidup pada zaman itu, mempercayai dan mengerti isi Taurat, Zabur (Mazmur), Kitab Para Nabi, Kitab Injil, Kitab Para Rasul dan Kitab Wahyu).
(2) dan Surat 29 Al Ankabuut: 46.
Dan janganlah kamu berdebad dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepadaNya berserah diri.
Dikatakan pada ayat di atas bahwa Tuhannya ummat Kristen dan Tuhannya ummat Islam adalah satu (wa ilahuna wa ilahukum wahidun). Kalau ummat Kristen mempercayai bahwa Tuhan yang mereka sembah namanya Yesus Kristus, seharusnya ummat Islam juga percaya pada hal itu, bukan?
Sekarang mari kita lihat ayat berikutnya, mengapa Tuhan sampai memerintahkan hal seperti itu
kepada Muhammad s.a.w?
Yang menjadi dasaarnya adalah Surat 28: Al Qashash: 5.
Wanuridu an namunna alal lazina ustud ‘ifu fil ardi wanaj ‘alahum
a’immatan wanaj ‘aluhumu al-warisina
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.
Pada ayat di atas, Tuhan berbicara mengenai ummat pilihanNya, yang akan menjadi pemimpin bahkan yang akan mewarisi bumi yang kita pijak sekarang ini, yaitu suatu bangsa yang pada jaman dahulu disebut sebagai bangsa Israel secara jasmani (menekankan pada sunat secara lahiriah – daging menurut Hukum Taurat yang diberikan melalui Musa), dimana melalui bangssa ini seluruh nabi berasal dan keselamatan datang; mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesia dalam keadaanNya sebagai manusia, namun karena penolakan mereka kepada Mesias, yaitu dengan menyalibkanNya pada kayu salib, sehingga keselamatan mula-mula dipercayakan kepada bangsa yang dikatakan di Alkitab sebagai bangsa yang tegar tengkuk (keras kepala) ini, akhirnya diberikan oleh Allah kepada bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah (Goyim/ Gentile atau Non-Yahudi, termasuk kita). Oleh karena itulah maka pada masa sekarang ini, yang dimaksudkan dengan Israel adalah Israel rohani (yang menekankan sunat hati menurut Hukum Kasih Karunia dari Yesus Kristus), yaitu bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, ummat kepunyaan Allah sendiri, yaitu orang-orang yang percaya dan menerima Isa Almasih (Yesus Kristus) sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.
Memang sunat secara lahiriah (daging) akan berguna bila Hukum Taurat ditaati, tetapi bila dilanggar, maka sunat itu tidak akan ada artinya lagi.
DIarsipkan di bawah: Agama, Buddha, Hindu, Katolik, Kristen Protestan, Religion, dakwah, islam, misi | Tagged: berita, editorial, isa almasih, opini, Yesus Kristus

Terima kasih untuk Ayat2 yang anda tuliskan d web ini…
ayat2 ini cukup membantu saya untuk mengetahui siapa itu ISA AS(Tuhan Yesus)
Tuhan berkati anda dan kita semua
JBU
Wah…wah…
Anda sebelum mengartikan Al-Quran harus belajar dulu tentang ilmu2 untuk mengartikannya. Bukan asal translate aj. Klu gtu sih komputer juga bisa. Anda salah besar Bung…!Contohnya saja di surat An-Naas. Ini Urainnya…Baca yang jelas, pahami, dan buka tuh buku kamu. Jangan asal translate ora genah. Anda kok cuma nyebutkan 3 ayat saja, padahal An-Naas itu 6 ayat. Wah…wah gtu ya, diambil sebagian saja trus disesuaikan dengan hati Anda. Maaf Bung Anda salah besar.!!!
Tadabbur QS An-Naas
Kajian Al-Qur’an
”Katakanlah : Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Ilah manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.” (QS An-Naas: 1-6)
Surat An-Naas adalah surat terakhir sesuai urutan dalam Mushhaf Al Qur’an namun bukan terakhir menurut urutan turunnya wahyu karena surat ini termasuk kategori surat makkiyah, yakni yang turun pada periode Mekkah.
Surat An-Naas merupakan salah satu dari al-mu’awwidzaat (surat-surat perlindungan, yakni Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas) dan juga al-mu’awwidzatain (dua surat perlindungan, yakni Al-Falaq dan An-Naas) dimana Allah SWT memberi arahan kepada orang-orang yang beriman agar senantiasa memohon penjagaan dan perlindungan kepada-Nya dari segala kejahatan, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, yang diketahui ataupun yang tidak diketahui, secara umum dan global ataupun secara khusus.
Adalah suatu hal yang istimewa ketika surat-surat tersebut secara khusus disebut sebagai surat-surat perlindungan, padahal semua surat atau ayat dalam Al-Qur’an tidak lain adalah perlindungan juga. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa setelah turunnya Al-Falaq dan An-Naas, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mencukupkan diri dengan keduanya saja dalam permohonan perlindungan dari keburukan dan kejahatan jin serta manusia (lihat hadits Abu Sa’id Al-Khudriy riwayat At-Tirmidzi, An-Nasaa-i dan Ibnu Majah).
Banyak sekali riwayat yang menegaskan tentang keutamaan surat-surat perlindungan ini. Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Tidakkah engkau tahu bahwa pada malam ini telah diturunkan ayat-ayat yang tidak ada yang membandinginya (dalam keutamaannya), yakni Qul a’udzu birabbil falaq (QS Al-Falaq) dan Qul a’udzu birabbin naas (QS An-Naas)?” (HR Muslim).
Kita juga dianjurkan untuk senantiasa membaca surat-surat perlindungan ini setiap selesai shalat, ketika hendak tidur, ketika bangun tidur, pada waktu petang dan pada waktu pagi. Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir, beliau berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhku membaca surat-surat perlindungan (al-mu’awwidzaat : QS Al-Ikhlas, QS Al-Falaq, QS An-Naas) setiap selesai shalat”. (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai). Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh ‘Uqbah bin Amir untuk membaca dua surat: QS Al-Falaq dan QS An-Naas setiap kali tidur dan setiap kali bangun (HR Ahmad dan An-Nasaa-i).
Dalam hadits riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha , disebutkan bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersiap untuk tidur setiap malam, maka beliau mempertemukan kedua telapak tangannya dan meniup pada keduanya seraya membaca QS-Ikhlash, QS Al-Falaq, dan QS An-Naas lalu mengusapkannya ke seluruh bagian badannya dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan badan beliau. Dan beliau mengulang yang demikian itu tiga kali (HR Al-Bukhari dan Ashabus Sunan). Dan dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah bersabda (yang artinya) : “Bacalah Qul a’udzu birabbilfalaq (yakni QS Al-Falaq) dan Qul a’udzu birabbinnaas (yakni QS An-Naas) pada waktu petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu cukup untuk menjaga dirimu dari segala bentuk gangguan“ (HR. Abu Dawud. An Nasa’i dan At Tirmidzi).
Disamping itu, kita juga dianjurkan untuk banyak-banyak membaca surat-surat perlindungan tersebut dalam berbagai kesempatan secara umum, baik dalam shalat ataupun diluar shalat.
Dalam riwayat Al-Baihaqi, diceritakan bahwa surat Al-Falaq dan An-Naas diturunkan sebagai ruqyah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat disihir oleh seorang Yahudi yang bernama Labid bin al-A’sham dengan sebelas buhul (simpul tali), dimana setiap kali dibacakan satu demi satu ayat-ayat dari kedua surat tersebut maka terlepaslah buhul-buhul itu satu persatu. Kisah tentang disihirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sendiri terdapat dalam Shahih Al-Bukhari.
Sebagai seorang muslim, sudah semestinya kita senantiasa memohon perlindungan (isti’adzah) kepada Allah, diantaranya dengan membaca surat-surat perlindungan diatas. Adapun alasan mengapa kita mesti banyak-banyak memohon perlindungan kepada Allah adalah sebagai berikut.
Pertama, karena Allah memang memerintahkan kita untuk banyak-banyak memohon perlindungan kepada-Nya. Bahkan, kalau kita perhatikan, betapa banyak Rasulullah telah mengajarkan kepada kita doa-doa perlindungan, untuk diucapkan dalam kesempatan-kesempatan khusus dan dalam berbagai kesempatan secara umum. Demikian pula surat-surat perlindungan diatas dan ayat-ayat Al-Qur’an pada umumnya juga merupakan perlindungan bagi kita.
Kedua, karena memohon perlindungan kepada Allah merupakan bagian dari doa, sementara doa adalah bentuk ibadah yang terbaik. Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa enggan meminta kepada Allah maka Dia akan marah kepadanya” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah). Ini berarti semakin banyak kita meminta kepada Allah, Dia akan semakin mencintai kita. Tentu ini berbeda dengan manusia yang jika sering dimintai justeru akan jengkel atau marah.
Ketiga, karena meneladani Rasulullah saw yang sangat banyak memohon perlindungan kepada Allah padahal beliau adalah ma’shum, dijamin terjaga dari segala bentuk kejahatan. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah tentu kita lebih pantas untuk banyak-banyak memohon perlindungan kepada Allah.
Keempat, karena memohon perlindungan kepada Allah adalah suatu kebutuhan bagi kita. Hal ini didasarkan pada dua alasan. Pertama, karena manusia adalah makhluq yang lemah. Dalam hal ini, Allah berfirman,”Manusia diciptakan dalam keadaan lemah” (QS.). Kedua, karena kejahatan sangatlah banyak bentuk dan jumlahnya, dan setiap saat bisa mengenai diri kita. Kejahatan bisa datang dari sesama manusia, binatang buas, binatang berbisa, alam dengan berbagai fenomenanya, Iblis, syetan, jin yang jahat dan sebagainya. Dan kepada Allah sajalah kita layak memohon perlindungan karena Dia-lah Dzat Yang Maha Kuat dan tidak memiliki kelemahan ataupun kekurangan sama sekali.
Kandungan Surat Ini
Dalam surat ini, demikian pula surat sebelumnya yaitu Al-Falaq, Allah memerintahkan kepada kita untuk ber-isti’adzah dengan firman-Nya Qul, yang bermakna : Katakanlah. Ini berarti bahwa pengucapan dengan lisan merupakan bentuk terbaik dari permohonan perlindungan kepada Allah, demikian pula doa pada umumnya.
Surat ini mengingatkan bahwa, manusia adalah makhluq lemah yang senantiasa membutuhkan penjagaan dan perlindungan. Dan mencari serta memohon perlindungan haruslah kepada Dzat Maha Pelindung. Dia-lah Allah, Rabb semua manusia, Raja semua manusia dan Ilah semua manusia. Disamping itu, isti’adzah (memohon perlindungan) adalah merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh ditujukan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala semata.
Bahaya dan ancaman terbesar manusia mukmin dalam kehidupannya adalah yang membahayakan dan mengancam keselamatan hatinya, kesucian jiwanya dan kemurnian iman, tauhid dan ibadahnya. Maka manusia mukmin diarahkan agar mencari dan memohon perlindungan untuk semua itu.
Dan faktor pengancam paling vital bagi manusia mukmin tersebut adalah syetan yang memang adalah musuh bebuyutan terbesar dan paling nyata bagi orang-orang beriman (QS. Al Baqarah [2] : 168 & 208 ; Al An’am [6] : 142). Oleh karena itu kita harus menjadikannya sebagai musuh utama kita dan senantiasa menyatakan perang terhadapnya (lihat QS. Faathir [35] : 6). Barangkali karena inilah, perlindungan dari syetan dinyatakan secara khusus dalam satu surat ini, setelah kita memohon perlindungan dari berbagai bentuk kejahatan dalam surat Al-Falaq. Dalam surat ini kita juga diingatkan bahwa syetan itu tidak hanya dari keturunan Iblis dan golongan jin saja, namun juga dari golongan manusia (lihat QS. Al An’am [6] : 112).
Namun perlu disadari bahwa, sebenarnya tipu daya syetan itu lemah (QS. An Nisa’ [4] : 76). Oleh karena itu pada hakekatnya ia tidak memiliki kekuasaan apa-apa atas orang-orang yang benar-benar beriman dan bertawakal pada Allah (QS. An Nahl [16] : 99). Dominasi kekuasaan dan pengaruhnya hanyalah terhadap orang-orang yang memang telah memberikan wala’ (loyalitas dan keberpihakan) padanya dan menyambut serta mengikuti ajakannya (QS. An Nahl [16] : 100 ; Al A’raf [14] ; 22).
Dalam surat ini disebut tiga sifat Allah, yaitu Rabb, Malik dan Ilah. Allah sebagai Rabb mengandung beberapa makna sebagai berikut. Pertama, Allah adalah pencipta (al-khaaliq). Lihat juga QS. Al An’am [6] : 102 ; Ar-Ra’ad [13] : 16 ; Az Zumar [39] : 62 ; Ghafir [40] : 62 ; Al-Hasyr [59] : 24. Kedua, Allah adalah pemilik (al-maalik). Lihat juga QS. Ali Imron [3] : 26-27 ; An-Nisa’ [4] : 131 & 170. Ketiga, Allah adalah pemberi rizki (ar-raaziq). Lihat juga QS. Fathir [35] : 3 ; Adz-Dzariyat [51] : 58 ; Ar-Rum [30] : 40 ; Ghafir [40] : 64. Dan keempat, Allah adalah pengatur segala urusan alam semesta (al-mudabbir). Lihat juga QS. Yunus [10] : 3 & 31 ; Ar-Ra’ad [13] : 2.
Adapun Allah sebagai Raja (Al-Malik) mengandung beberapa arti berikut. Pertama, Allah adalah penguasa sekaligus pembuat hukum dan tatanan kehidupan (al-haakim) : QS. At Tin [95] :8 ; Al Maidah [5] : 50 ; Yunus [ 12] : 40. Kedua, Allah adalah Dzat satu-satunya yang berhak mendapat ketaatan mutlak (al-muthaa’) : QS. Ali Imron [3] : 32 & 132 ; An Nisa’ [4] : 59 ; Al Maidah [5] : 92 ; Al An fal [8] : 46. Ketiga, Allah juga adalah Dzat satu-satu-Nya yang berhak memperoleh loyalitas mutlak (al-waliy) : QS. Al Baqoroh [2] : 257 ; Al Maidah [5] : 55 ; Al Hajj [22] : 40-41.
Sementara Allah sebagai Ilah memiliki beberapa makna berikut. Pertama, Allah adalah Dzat satu-satu-Nya yang harus menjadi puncak pengharapan, tujuan dan cita-cita manusia dalam segenap urusannya (al-ghayah) : QS. Al An’am [6] : 163. Kedua, Allah adalah Dzat satu-satu-Nya yang berhak atas segala bentuk penghambaan dan peribadatan (al-ma’bud) : Qs. Al Fatihah [1] : 5 ; Al Baqoroh [2] : 21 ; Al An’am [6] : 102 ; Adz Dzariyat [51] : 56 ; An Nahl [16] : 36 ; Al Anbiya’ [21] : 25.
Memahami ketiga sifat Allah tersebut berikut rincian maknanya merupakan bagian dari ma’rifatullah (mengenal Allah). Namun perlu diingat, ma’rifatullah tidaklah hanya mengetahui dan mengakui wujud-Nya serta sekedar menghafal Asma dan Shifat-nya saja. Tapi yang lebih penting lagi adalah: mengenal fungsi-fungsi Asma dan Shifat-Nya tersebut berikut ’sentuhan-sentuhannya’ dalam kehidupan serta mengetahui konsekuensi-konsekuensinya terkait dengan keimanan dan ibadah kita.
Bacalah Injil bro…maka kamu akan tahu kebenaran
Namun bukan injil yang ada dalam Al Quran. Saya dulu meninggalkan Yesus. Namun Dia panggil saya lagi. Saya bersyukur lepas dari maut. Karena benar apa yang Tuhan Yesus katakan, bahwa tak seorang pun dapat mengambil murid-muridNya dari tanganNya. Kau sudah tahu kebenaran itu kan? Maka kebenaran ini tak akan pernah hilang dari kehidupanmu. Percayalah! Saya dulu baca kitabmu sampai habis. Maka kau seharusnya membuka dirimu sampai kebenaran itu datang.
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
tidak usah dipersoalkan, masing2 saling menjaga perasaan dan toleransi thd umat beragama lain, itu saja