1. Al Qur’an

 

Qur’an, berasal dari kata qaraa, artinya “bacaan”. Kemudian kata Qur’an dipakai untuk Al Qur’an yang dikenal sekarang ini.

 

Adapun definisi Al Qur’an adalah Kalam Allah s.w.t yang merupakan mu’jizat yang diwahyukan kepada Muhammad s.a.w.

 

Al Qur’an yang diakui sebagai kitab suci oleh ummat Islam, terdiri atas 114 Surat dan dibagi menjadi 30 bagian atau disebut juga Juz. Jumlah seluruh ayat-ayat yang ada di dalam Al Qur’an sebanyak 6.666 buah.

 

Penyampaian dan penulisan Al Qur’an berlangsung dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun.

 

Setelah Muhammad s.a.w wafat, tugas beliau digantikan oleh Khalifah Abu Bakar. Pada awal masa pemerintahannya banyak diantara orang-orang Islam yang murtad, bahkan ada beberapa diantara mereka yang mengaku menjadi nabi. Hal ini dihadapi oleh Abu Bakar dengan tegas, sehingga terjadilah peperangan yang hebat untuk menumpas orang-orang yang murtad tersebut. Diantara peperangan-peperangan itu, yang terkenal adalah Perang Yamamah. Dalam perang ini banyak penghafal ayat-ayat Al Qur’an yang terbunuh. Hal ini membuat khawatir Umar bin Khaththab (Bapak mertua Muhammad s.a.w), sehingga ia membicarakan hal ini dengan Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit, yang kemudian sepakat menugaskan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an dari para sahabat-sahabatnya yang masih hafal ayat-ayat Al Qur’an maupun yang masih menyimpan ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis di daun, pelepah kurma, batu, tanah keras, tulang unta atau kambing.

 

Demikianlah seluruh ayat-ayat Al Qur’an tersebut ditulis kembali oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan disusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Muhammad s.a.w, semasa hidupnya.

 

Mula-mula lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat Al Qur’an atau yang disebut Mushhaf ini disimpan oleh Abu Bakar. Setelah beliau wafat, Mushhaf tersebut oleh Umar bin Kaththab di simpan di rumahnya. Setelah beliau juga wafat, akhirnya Mushhaf ini disimpan oleh putrinya, Hafsah: salah seorang janda Muhammad s.a.w.

 

Akibat diberikan kelonggaran-kelongaran oleh Muhammad s.a.w. semasa  hidupnya, dengan mengijinkan para pengikutnya untuk memudahkan mereka  membaca dan melafazkan ayat-ayat Al Qur’an  menurut dialek mereka masing-masing, maka menimbulkan perselisihan diantara mereka, karena masing-masing merasa paling benar dalam membaca dan melafazkan ayat-ayat Al Qur’an di dalam dialeknya sendiri. Oleh sebab itulah maka dibentuklah satu panitia oleh Utsman, yang terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hissyam.

 

Tugas panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit ini ialah untuk membukukukan Al Qur’an; yakni dengan menyalin dari lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat Al Qur’an itu menjadi sebuah buku, dan menyeragamkan penulisan serta pembacaannya menurut dialek suku Quraisy; sebab Al Qur’an diturunkan menurut dialek suku tersebut.

 

Maka dari Mushhaf yang ditulis di zaman Khalifah Utsman itulah kaum Muslimin di seluruh dunia menyalin Al Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: