2. Hadits

2. Hadits

 

Hadits yang artinya kebiasaan atau tradisi mempunyai nilai yang tinggi sesudah Al Qur’an. Walau yang pertama dihargai lebih tinggi, namun seluruh pemerintahan Islam sebagian besar didasarkan pada Hadits.

 

Untuk memahami maksud ayat-ayat Al Qur’an ini dengan lebih jelas dan terperinci, maka  berpedoman pada hadits-hadits yang keluar dari ucapan Muhammad s.a.w.; karena itu timbullah keinginan dari para ulama untuk membukukan hadits-hadits tersebut; apalagi ternyata banyak ditemukan hadits-hadits yang lemah dan palsu.

 

Pada mulanya hadits-hadits itu tidak dikumpulkan seperti Al Qur’an, karena ada beberapa ucapan dari Muhammad s.a.w yang melarang membukukan hadits-hadits, contohnya di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Said Al-Khudri, dikatakan:

 

Bersabda Rasullullah s.a.w: “Janganlah tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al Qur’an, hendaklah dihapuskan, dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah neraka”.

 

Baru pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) ini, hadits-hadits tersebut dibukukan.

 

Diantara tokoh-tokoh yang termasyur dalam membukukan hadits-hadits adalah: Imam Malik bin Anas (712-789 M) yang menyusun Al Muwaththa; Imam Bukhari dan Imam Muslim membukukan hadit-hadits yang sahih saja. Sedangkan karangan-karangan dari Imam Ibnu Hanbal  (780-855 M),  At Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan An Nasai dianggap sebagai induk kitab-kitab hadits yang disusun kemudian.

 

Demikianlah keterangan singkat mengenai Al Qur’an dan Hadits tersebut, yang akan kita jadikan dasar untuk menemukan jawaban dari pertanyaan di atas.

 

Untuk maksud dan tujuan tersebut, penulis mencoba membaginya dalam beberapa tahapan, namun sebelum itu, kita akan melihat lebih dahulu apa yang Al Qur’an katakan tentang kedatangan-Nya di Qur’an Surat 3 Ali Imran: 39:

 

Fanadat-hul malaikatu wahuwa qalimun-yusalli filmihrab(i), annallaha yubasysyiruka biyahya musaddiqan bikalimatin minallahi wasayyidan-wahasunan-wanabiyyan-minas salihin(a)

 

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang yang saleh”

 

Dikatakan pada ayat di atas bahwa Allah mengutus lebih dahulu seorang nabi yang bernama Yahya (Yohanes) untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan seorang nabi yang akan menjadi panutan bagi ummat manusia, karena Dia adalah kalimat (yang datang) dari Allah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: