Tahapan III: Kematian dan KebangkitanNya

Tahapan III: Kematian dan KebangkitanNya

Perhatikan apa yang dikatakan oleh kedua ayat berikut ini:

Surat 19 Maryam: 33.

Was salaamu’alay-ya yauma walidtu wa yauma amuutu wa yauma ub’atsu hay-yaa

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali.

Surat 3 Ali Imran: 55.

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat”.

Jika kita memperhatikan kedua ayat Al Qur’an di atas, menurut anda, apakah Isa Almasih itu mengalami kematian atau tidak; mengingat ada sebagian besar dari ummat Islam yang berpendapat bahwa Isa Almasih itu tidak mati disalibkan, melainkan diangkat ke sorga oleh Allah; dan orang yang disalibkan itu diduga adalah salah seorang dari murid Isa Almasih yang disamarkan oleh Allah, sehingga wajahnya menyerupai wajah Isa?

Mengapa mereka bisa mempunyai pendapat yang bertolak belakang dari pernyataan ayat Al Qur’an di atas? Itu semua dikarenakan Al Qur’an sendiri tidak tegas dan jelas mengenai siapa yang disalibkan, contohnya: dalam Surat 4 An Nisaa’: 157:

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, ‘Isa putera Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka’. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka itu adalah ‘Isa”.

Bahkan pada sekitar abad ke-16 muncul suatu injil yang isinya sangat kontroversial, yaitu Injil Barnabas. Injil ini menceritakan bahwa yang mati disalibkan itu adalah Yudas, murid Yesus yang mengkhianatiNya. Banyak pemimpin dan Pengajar Ummat Islam begitu bersemangat menyebarkan kandungan Injil Barnabas ini tanpa terlebih dahulu meneliti keabsahannya, entah itu ditinjau dari sejarahnya ataupun dari bukti-bukti arkeologisnya, yang semua itu tujuannya untuk menandingi misi Kristen dan menggoyang imannya; namun sperti kata pepatah yang mengatakan bahwa: serapi-rapinya bangkai ditutup, baunya akan tercium juga. Akhirnya penulis dari injil palsu tersebut diketahui bernama Fra Marino aliar Mustafa de Aranda, seorang Yahudi Spanyol, yang beragama Islam. Injil palsu ini ditulis dalam bahasa Italia pada sekitar tahun 1575 M. Kebohongan dari injil palsu ini dapat dicermati, a.l.:

  1. Bahasa yang dipakai injil ini adalah bahasa Italia; padahal tidak ada satu pun injil dan tulisan dari murid-murid Yesus yang menggunakan bahasa ini, melainkan menggunakan Aramia lama atau bahasa Yunani.
  2. Adanya semangat menanamkan ajaran Islam, contohnya ketika Yesus berkata: “Bahwa akan datang seorang Rasul Allah yang bernama Muhammad untuk membongkar segala kepalsuan yang terjadi selama ini” (injil palsu Barnabas 220:20). Padahal di dalam seluruh isi Alkitab, baik kitab-kitab di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru, tidak ada satu ayat pun yang berkata tentang hal itu.
  3. Pada waktu gereja mengkanonisasi kitab-kitab melalui konsilli-konsilinya sehingga menjadi Kitab Suci atau Alkitab yang dikenal sekarang, kitab injil palsu ini belum ada, hal ini menandakan kitab ini muncul belakangan, dan akhir penulisannya diketahui pada sekitar 16 abad kemudian sesudah penulisan Injil dan surat-surat para rasul dan para bapa Gereja di abad pertama, yang menjadi saksi hidup terhadap semua peristiwa kehidupan Isa Almasih (Yesus Kristus), mulai dari kelahiranNya, pelayananNya, kematianNya di kayu salib, kebangkitanNya dari antara orang mati, bahkan sampai Dia terangkat kembali ke sorga.
  4. Penulisnya banyak melakukan kesalahan, baik dari gaya penulisannya yang berlatarbelakang Spanyol, maupun kesalahan geografis, serta kesalahan dalam menetapkan tahun-tahun penanggalan sejarah penguasa Romawi saat itu.
  5. Banyak cendekiawan muslim yang berkomentar tentang kepalsuan injil ini, diantaranya: Prof. Drs. K.H. Hasbullah Bakry, SH (1985:63), yang menyimpulkan bahwa buku tersebut bukan dibuat oleh murid Yesus, karena tidak ditulis dalam bahasa Aramia lama atau bahasa Yunani. Seorang pengarang Islam yang cukup terkenal, Abbas Mahmud Al-Aqqad, juga membenarkan pendapat di atas. (Telaah kritis atas injil Barnabas, Bambang Noorsena, S.H. – Yayasan ANDI – Yogyakarta 1990).

Kalau kita mengerti dan mengenal Allah dengan sifat dan karakterNya, pasti kita tidak akan mempunyai pendapat seperti itu. Tentunya harus disertai dengan alasan-alasan yang mendasarinya, diantaranya:

Pertama, seandainya pada waktu itu Allah menggantikan kedudukan Isa Almasih yang hendak disalibkan, dengan orang lain yang wajahnya diserupakan dengan wajah Isa, berarti Allah menipu orang banyak yang saat itu ada di sekeliling Isa. Apakah menurut anda, Allah berbuat serendah itu? Sepengetahuan penulis, Allah tidak mempunyai sifat seperti itu. Ia tidak menipu dan tidak ditipu oleh siapa pun; kecuali kalau memang ada ilah (sembahan) lain yang dimaksud oleh pendapat mereka seperti tersebut di atas; karena sifat ini hanya dimiliki si iblis, yaitu sebagai pendusta, bahkan bapa segala dusta. Allah sendiri tidak mungkin dan tidak akan pernah mau melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan sifat dan karakterNya.

Perhatikan Surat 3 Ali ‘Imran: 54 dan Surat 8 Al Anfaal: 30!

Orang-orang kafir membuat tipu daya, dan Allah pun membuat tipu daya dan Allah sebaik-baiknya pembuat tipu daya.

Wallahu khairu al – makirina

Dan Allah sebaik-baik pengatur/ pembuat tipu daya

Coba kaji dan renungkan kedua ayat di atas, apakah anda setuju dengan pernyataan yang menggambarkan bahwa Allah melakukan perbuatan yang sangat tercela, yaitu menipu; bahkan dikatakan sebagai sebaik-baiknya pembuat tipu daya (penipu ulung)?

Kedua, seandainya pada saat itu Allah bermaksud meluputkan Isa yang hendak disalibkan orang banyak, apakah menurut anda Dia terlalu lemah, sehingga tidak sanggup membuat roboh ataupun menjungkirbalikkan orang-orang tersebut tanpa harus menipunya? Bagi Allah perkara itu sama mudahnya seperti membalikkan telapak tangan-Nya saja?

Rasul Yohanes, yang menyaksikan peristiwa sebelum penyaliban terjadi, memaparkan detik-detik kejadian pada saat Isa Almasih (Yesus Kristus) menyerahkan diriNya untuk disalibkan. Dalam kesaksiannya yang ditulis dalam Kitab Injil Yohanes 18:3-6, dikatakan sebagai berikut:

Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga Bait Allah yang disuruh oleh Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diriNya maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret”. KataNya kepada mereka: “Akulah Dia” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia”, mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.

Rasul Yohanes tidak menjelaskan bahwa mereka terjatuh akibat ada angin ribut atau terjadi gempa bumi, melainkan terjatuh ketika mendengar perkataan Yesus yang penuh kuasa. Yesus mampu melepaskan diri-Nya kalau Dia menghendakinya, tetapi Dia tidak melakukannya karena Dia menyadari bahwa waktu yang telah ditetapkan Allah sudah tiba untuk menyerahkan diriNya seperti apa yang sudah tertulis di Kitab Para Nabi bahwa Mesias harus menderita dan mati di atas kayu salib untuk seluruh dosa ummat manusia yang percaya kepadaNya.

Kemahakuasaan Allah adalah mampu melaksanakan segala perkara dengan sempurna sesuai dengan rancangan yang ada padaNya, tanpa bertolak belakang dengan sifat dan karakter yang dimilikiNya; karena betapa dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya. Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Allah? Atau siapakah yang pernah memberi petunjuk kepadaNya sebagai penasehat?

Sebab segala sesuatu berasal dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Jadi, jika pendapat anda bahwa Isa Almasih tidak mengalami kematian, berarti anda tidak percaya pada apa yang dikatakan kedua ayat Al Qur’an di atas. Dengan kata lain anda tidak mempercayai Al Qur’an itu sendiri sebagai kitab suci; padahal kedua ayat Al Qur’an di atas berkata dengan jelas sekali bahwa Isa Almasih mengalami kematian, kemudian Allah membangkitkan Dia dan mengangkatNya ke sisiNya.

Ummat Islam khususnya sangat menolak mengenai kematian Isa Almasih. Mereka selalu berkata: “Kalau Isa Almasih Tuhan, kok mengalami kematian? Masak Tuhan bisa mati, disalibkan lagi layaknya seorang penjahat?”

Penulis menyadari tidak mudah untuk memberi jawaban atas pertanyaan di atas; hanya Roh Kudus (Roh Allah) saja yang bisa memberikan jawaban dengan sempurna dan dapat memberikan pengertian dengan benar kepada anda. Yang menjadi masalahnya sekarang adalah maukah anda dituntun oleh Roh Kudus supaya Dia bisa memberikan pewahyuanNya, sehingga mata rohani anda terbuka dan bisa mengerti dan memahaminya?

Pada saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa akibat diperdaya oleh iblis, mandat (kuasa) yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menguasai bumi telah diserahkan oleh manusia itu sendiri ke tangan iblis; sehingga hubungan yang harmonis antara Tuhan dan manusia menjadi terhalang oleh dosa yang timbul akibat ketidaktaatan manusia di dalam mematuhi perintahNya. Tetapi Tuhan itu luar biasa baik, panjang sabar dan besar kasih setiaNya; sehingga dibuatNya pakaian dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan manusia yang diakibatkan karena memakan buah terlarang itu. Inilah mula pertama terjadinya korban darah, yaitu hewan yang diambil kulitnya oleh Tuhan untuk dikenakan kepada manusia. Darah yang berasal dari hewan korban yang tidak mengenal arti dosa merupakan simbol (lambang) dari penebusan yang nantinya akan digenapi dalam diri Anak Domba Yang Kudus, yang berasal dari Allah sendiri. Dari apa yang telah Tuhan lakukan itu, maka sejarah banyak mencatat tentang adanya korban-korban persembahan yang dilakukan manusia untuk memberikan “sesuatu” kepada apa yang mereka percayai sebagai “sesembahan” mereka, baik itu kepada Tuhan, mapun kepada ilah-ilah lain yang mereka percayai untuk keselamatan hidup mereka.

Semua itu dilakukan oleh manusia sebagai wujud pengakuan mereka atas adanya kuasa yang jauh lebih besar dan kuat, yang tidak bisa dijangkau oleh akal budi mereka. Akibat dosa itulah, maka manusia menjadi rusak; dan untuk mengembalikan manusia ke citranya semula, maka harus ada korban penebusan, yaitu dengan menggunakan darah, karena di dalam darah terdapat nyawa (kehidupan).

Upacara korban ini bermakna penebusan atas kehidupan yang telah mati (kematian rohani), supaya tercipta kembali hubungan yang harmonis antara Tuhan dan manusia, karena dosa-dosanya telah ditutupi (bukan dihapus) oleh darah korban. Korban-korban yang biasanya terdiri dari darah binatang yang dikorbankan pada suatu ibadah korban, tidak mungkin mencapai bisa mencapai tujuannya, sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak akan mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan satu kali untuk selamanya-lamanya.

Satu-satunya cara yang dilakukan Tuhan adalah dengan mengorbankan diriNya sendiri, yaitu dengan menjelmakan FirmanNya menjadi manusia yang suci, tidak bercacat cela, bernama Isa Almasih (Yesus Kristus); untuk dipersembahkan sebagai Anak Domba Allah yang dikorbankan untuk penebusan yang sempurna atas seluruh dosa ummat manusia; sehingga dosanya dihapus (bukan ditutupi), dan melalui “darah tercurah dari manusia suci yang tidak berdosa dan dan tidak bercacat cela itu” menjadi jalan untuk mendamaikan ummat manusia dengan diriNya; yakni dengan melenyapkan perseteruan itu pada kayu salib. Memang, pemberitaan tentang salib adalah merupakan kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi orang yang diselamatkan, pemberitaan salib itu merupakan kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Coba anda sebutkan, adakah dari semua pemimpin ummat beragama yang ada di dunia ini, baik itu besar maupun kecil, yang rela berkorban menyerahkan nyawanya sampai mati untuk menyelamatkan ummatnya dari kebinasaan? Kecuali Isa Almasih, tidak ada yang lain; sehingga oleh Allah, semua orang beriman kepadaNya diberikan kedudukan di atas orang-orang kafir.

Perhatikan ayat berikutnya di Surat 4 An Nisaa’:156!

Dan karena kekafiran mereka (terhadap ‘Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

Dan Surat 4 An Nisaa’: 159

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadaNya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Ada sebuah makam yang diketemukan di sekitar tepi laut mati, yang diduga dan dipercaya oleh sebagian kecil umat Islam sebagai tempat dimana jenazah Isa Almasih dimakamkan. Mereka menolak kepercayaan ummat Kristen dan juga kepercayaan sebagian besar ummat Islam yang percaya bahwa Isa Almasih hidup dan sekarang berada di sorga. Kalau pendapat mereka itu benar, bagaimana menjelaskannya, jika Isa Almasih yang sampai saat ini jenazahNya masih terbaring bisa melihat perbuatan-perbuatan manusia sejak matinya Isa sampai sekarang; sedangkan di hari kiamat nanti Dia harus menjadi saksi bagi orang-orang beriman kepadaNya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ayat Al Qur’an di atas? Dasar pijakan dalam pemikiran mereka itu perlu dipertanyakan, karena dengan dmikian berarti mereka meniadakan kebenaran ayat Al Qur’an itu sendiri, yang seharusnya mereka percayai sebagai kitab suci.

Dari keduapuluhlima Nabi yang diakui oleh Ummat Islam, hanya ada 5 Nabi yang digolongkan sebagai Nabi besar, yaitu: Nabi Ibrahim a.s; Nabi Musa a.s.; Nabi Daud a.s.; Nabi Isa Almasih dan Nabi Muhammad s.a.w..

Dari kelima Nabi besar tersebut, siapa menurut anda Nabi yang tidak dikuasai oleh kematian, yang sampai saat ini hidup dan berkuasa di sorga?

Perhatikan baik-baik ayat di bawah ini!

Surat 47 Muhammad: 19.

Maka ketahuilah (ya Muhammad), bahwa sesungguhhnya tidak ada Tuhan, melainkan Allah dan mohonkanlah ampunan (kepadaNya) bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mu’min.

Kalau kita perhatikan ayat di atas berarti bahwa semua umat manusia entah itu kedudukannya sebagai nabi atau pun rasul, ternyata sudah ada di bawah kuasa dosa, kecuali Isa Almasih. Kalau begitu siapa Isa Almasih itu sebenarnya sebagai satu-satunya Pribadi Yang Suci (tidak berdosa)? Bukankah yang Suci itu hanya Allah saja?

Kalau saat ini anda diberi kesempatan untuk memilih, yang mana yang akan anda pilih: ikut orang yang masih hidup atau ikut orang yang sudah mati?

Oleh sebab itu, sudahkah anda beriman kepadaNya (Isa Almasih) sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ayat-ayat Al Qur’an di atas, kalau tidak ingin anda dikatakan kafir?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: