‘Capres Indomie’, Bencana Pencitraan SBY

‘Capres Indomie’, Bencana Pencitraan SBY

Sepak terjang para anggota Tim Pemenangan SBY-Boediono kini menjadi sorotan
masyarakat. Alih-alih menjaga citra SBY dari serangan lawan politiknya,
ulah tim ini justru sering mengakibatkan blunder politik yang membuat
elit Partai Demokrat kebakaran jenggot. Mengapa?

Sebenarnya kejanggalan itu telah terlihat sejak lama. Langkah yang
ditempuhnya Rizal Mallarangeng misalnya. Sehabis deklarasi pasangan
Megawati-Prabowo di Bantar Gebang, pemilik Fox ini kelihatan panik
dalam setiap statementnya. Ia terjebak untuk membantah ke-neolib-an
Boediono dengan argumen pas-pasan menyerang Kwik dan Prabowo secara
membabibuta.

Sebelumnya, episode Sabuga juga menuai kritik dari mana-mana. Dengan
biaya miliaran dan sudah disiarkan langsung oleh tujuh stasiun
televisi, tapi gema politik deklarasi duet SBY-Boediono itu tak lebih
dari acara seremoni kepresidenan biasa yang sering dilakoni SBY.
Alih-alih mencari nilai positif, capres incumbent itu malah dikecam
karena pemborosan yang sia-sia.

Ironisnya beberapa jam sebelum konglomerat dan pendukung SBY
berkumpul di acara deklarasi mewah Sabuga itu, puluhan warga miskin
pingsan tergencet saat berebut pembagian BLT di Karawang, Jawa Barat.
Mereka terinjak-injak dalam antrean 3.000 penerima bantuan yang
kelelahan setelah menunggu berjam-jam demi BLT sebesar Rp 200 ribu.

Sebelum jadwal kampanye ditentukan oleh KPU pada 29 Mei 2009,
iklan-iklan pencitraan diri SBY muncul di koran-koran. Tidak
tanggung-tanggung, semuanya satu halaman penuh dan berwarna.
Dibandingkan dengan biayanya, isinya sungguh tidak punya greget sedikit
pun.

Menampilkan foto-foto SBY bersama keluarganya dengan pesan ‘SBY
Sahabat Keluarga’. Selain terkesan hanya pamer album keluarga, iklan
tidak punya pesan lain. Tidak juga membahas tentang rakyat, tidak
tentang program. Sekadar menjual tampang keluarga yang keren-keren
seperti selebriti. Kebetulan sekali, di antaranya memang ada yang
selebriti.

Sehabis iklan-iklan mahal tersebut, orang masih menantikan apa lagi jurus public relation
(PR) yang bisa dihadirkan oleh Fox, konsultan politik yang konon
dibayar ratusan miliar itu. Ternyata hasilnya hanya iklan ‘malas mikir’
dengan menggunakan jingle Indomie. Jelas iklan ini kembali menjadi PR disaster alias bencana pencitraan SBY.

Tujuan mendompleng ketenaran Indomie sudah jelas. Indomie adalah
makanan rakyat yang popular. Konsumsinya setahun bisa miliaran bungkus.
Jinglenya juga sudah dihapal di luar kepala jutaan manusia bisa jadi memory trigger yang dahsyat. Kira-kira, kalau ingat Indomie, semua orang langsung ingat SBY.

Namun hal yang luput diriset oleh Fox adalah persepsi rakyat
terhadap Indomie. Sebagai produk mie instan, Indomie memang laku keras.
Tapi apakah konsumsinya memang berdasarkan preferensi? Atau sebaliknya
karena karena terpaksa, sebab sifatnya yang instan, praktis, murah, dan
bisa dijadikan lauk pengganti di saat seseorang tak sanggup membeli
daging dan sayur ?

Walaupun selama ini Fox memakai strategi ‘pencitraan’ , mereka gagal
melihat citra Indomie di masyarakat sebagai makanan yang tidak bergizi,
dan sebaliknya justru cenderung merusak kesehatan. Makanan yang
dikonsumsi di saat susah dan tidak ada makanan yang lain. Makanan yang
tidak mengenyangkan.

Pencitraan Indomie yang diadopsi ke sosok SBY bukan jadi positif,
malah jadi negatif. Bagaimana rakyat bisa makmur dan sejahtera, kalau
presidennya saja bercitra mie instan? Tiap makan mie instan dan merasa
susah, semua orang pasti akan ingat SBY. Memang, memory trigger yang sungguh powerful. Sebuah PR disaster yang sungguh parah. A Four Star General. A Proven Leader. A PhD. Indomie, presidenku…!

Courtesy: Milis KAHMI_pro_network

3 Tanggapan

  1. Sebenarnya mereka sudah kalah tuh, liat aja jargonnya LANJUKANJK dam MEGA

  2. iklan sahabat keluarga yang mepublikasikan album keluarga memang mencitrakan SBY sebagai kepala keluarga yang baik, tapi tidak bisa menjadi kepala negara yang baik, hanyalah “presiden rasa indo mie” atau “indo mie rasa presiden” atau juga mungkin “indo mie presiden” atau “presiden indo mie” . … presiden yang senang jika masyarakatnya hanya bisa makan indo mie, padahal indo mie adalah makanan instan penggajal perut bagi rakyat yang setiap hari merintih kelaparan, makan instan rendah gizi yang menjadi langganan rakyat miskin dan anak kost. Kalau LSI mengatakan, SBY-Boediono memiliki dukungan hingga 70 persen, kemungkinan besar yang benar adalah tingkat kekalahan SBY-Boediono mencapai 70 persen. Jadi katakan TIDAK pada NOMOR 2, katakan TIDAK pada SBY-Boediono, katakan TIDAK pada NEOLIB-KAPITALIS. SBY-No……………………………………………………………………………

    • sby seakan akan peduli rakyat dg BLT segala macam, terang aja bukan duit pribadinya makanya di hambur2kan sesukanya, kalau uang negara abis kan bisa ngutang lagi??? itulah prinsip pemerinthan skrg. lama2 negara ini di gadaikan ke rentenir.. sungguh malang benar kita punya presiden setolol ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: