Cerita soal SBY benar-benar peragu

Dari: bungaran <no_reply@yahoogrou p s.com>
Topik: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Kilas balik langkah politik SBY (2)
Tanggal: Selasa, 16 Juni, 2009, 7:34 AM
 
Ketika itu, tahun 2001, di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman
Wahid, stabilitas politik dan keamanan betul-betul goyah. Di Jakarta,
atau kota besar lainnya, ancaman perampokan, pembunuhan, atau
pencurian, merajalela. Lampu merah (lampu lalu lintas) adalah daerah
bahaya satu, karena di situ beroperasi kelompok `’Kapak Merah”.
Ketika lampu merah menyala, tiba-tiba saja serombongan anak muda
bersenjata kapak, pisau, atau golok -terkadang bersenjata
api-menyatroni mobil yang sedang berhenti, memecahkan kacanya, lalu
merampok penumpangnya, dan pergi seenaknya saja meninggalkan korban,
yang tak jarang sudah dianiaya terlebih dulu. Polisi seakan tak
berdaya. Itu menyebabkan rakyat terpancing menjadi main hakim sendiri.
Maling motor yang tertangkap, dibakar hidup-hidup. Adegan mengerikan
itu, merupakan pemandangan sehari-hari di mana-mana.

Itu belum seberapa. Berbagai daerah bergolak. Aceh, misalnya,seakan
sudah terpisah dari Republik. Bayangkan, Presiden Abdurrahman Wahid,
datang ke Banda Aceh, ketika itu, hanya berani sampai Masjid Raya.
Bicara sebentar, ia langsung balik ke bandar udara, terbang pulang ke
Jakarta. Di Ambon, Maluku, `’perang” Islam – Kristen, mencapai
puncaknya. Tak terhitung nyawa yang melayang, bangunan yang terbakar,
atau perkantoran yang dimusnahkan. Peristiwa serupa terjadi di Poso,
Sulawesi Tengah. Di berbagai daerah di Kalimantan, orang Dayak
`’perang” melawan suku pendatang, Madura. Korban tak lagi terhitung.

Nah, ketika itu yang menjadi Menko Polkam adalah Jenderal (Purn.)
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang berambisi menjadi Presiden RI.
Sebagai penanggungjawab stabilitas politik dan keamanan di kabinet,
apa yang SBY lakukan? `’Ooh dia rapat terus, diskusi terus, sampai
berbulan-bulan, ” ujar seorang Menteri yang ketika itu masuk jajaran
Polkam. Sebagai hasil rapat-rapat yang melelahkan yang dipimpin SBY
itu, dibentuklah Desk Aceh, Desk Ambon, Desk Poso, Desk Sampit, dan
entah Desk apa lagi. Apa kerja Desk itu? Jangan tanya, karena mereka
rapat terus, diskusi terus, seminar terus. `’Saya lihat orang-orang
yang bunuh-bunuhan di Ambon, Poso, atau Sampit, sudah mulai capek.
Mereka juga sudah capek membakar rumah, saking banyaknya rumah yang
dibakar. Tapi rapat belum menghasilkan keputusan apa pun,” kata
Menteri tadi.

Suatu hari rapat berlangsung, dipimpin SBY. Seperti biasa, diskusi
berlangsung seru di antara peserta rapat, dan SBY menjadi
moderatornya, persis seperti diskusi atau seminar yang biasa dilakukan
di hotel-hotel. Tiba-tiba, SBY memerintahkan Mayjen. Aqlani Maja, Staf
Ahli Menhankam, yang bertugas mewakili Menhankam Mahfud MD, untuk
memberikan pendapat. Konon, Aqlani langsung bicara, `’Pak Menteri,
saya kira sudah lebih 3 bulan kita rapat terus. Semua kita diskusikan.
Orang yang bunuh-bunuhan di Poso, Ambon, atau Kalimantan, tampaknya
sudah capek, mereka sudah berhenti sendiri.Tapi rapat belum mengambil
keputusan apa pun. Kalau Pak Menteri minta pendapat saya, apa saja
yang Pak Menteri putuskan saya setuju. Yang penting, kita harus punya
keputusan. Saya kira itu yang penting.”

 
Wajah SBY langsung merah-padam. Mungkin merasa malu, sekaligus marah, karena merasa dihina. `’Ini bukan rapat kedai kopi, yang hadir di sini, para
Menteri,” teriak SBY. Semua terdiam. Tapi beberapa Menteri, di antaranya, Menteri Otonomi, Prof. Ryaas Rasyid, secara sembunyi-sembunyi menunjukkan jempol jari
tangannya kepada Aqlani, sebagai tanda mendukung. Rapat pun akhirnya
bubar, sekali lagi: tanpa keputusan apa pun.

Menurut sebuah sumber, Aqlani berani bicara seperti itu, selain karena
sudah kesal, mengikuti rapat yang melelahkan tanpa keputusan itu, ia
memang sudah lama kenal watak atau kepribadian SBY. Ia dan SBY,
sama-sama mengikuti pendidikan militer di Port Leavenworth, Amerika.
Di sana pula, mereka sama mengikuti pendidikan S2, dan sama pula
lulusnya. Sebelumnya, mereka pernah pula menjadi dosen di Seskoad,
Bandung, ketika Komandan Seskoad dijabat Feisal Tanjung. Jadi rupanya,
ia tahu betul, bahwa SBY itu adalah tipe orang yang tak bisa membuat
keputusan (indecisive) , apalagi keputusan itu berisiko..

Karena cacat personalitinya itulah, semasa menjadi Menko Polkam,
nyaris tak satu pun keputusan penting -apalagi yang berisiko
tinggi-datang dari kantor Menko Polkam. Kantor Menko Polkam, di
kalangan para Menteri, sering diejek sebagai kantor `’Seminar”.
Seperti diketahui, masalah Poso dan Ambon, akhirnya ditangani oleh
Yusuf Kalla, yang ketika itu menjabat Menko Kesra yang kemudian muncul
Perjanjian Malino I dan II.

Kalau saja SBY punya rasa malu, seharusnya ia mengundurkan diri dari
kabinet, saat Malino I dan II ditandatangani, dan mendapat restu dari
Presiden. Memang gara-gara Malino itu, SBY marah besar kepada Yusuf
Kalla, yang telah mengambil alih wewenang dan tanggung jawabnya, tapi
untuk mundur dari kabinet, tentu saja orang seperti SBY tak akan mau.

Ada lagi kisah dramatis, sekaligus memalukan. Sewaktu Aceh diputuskan
menjadi daerah darurat militer, SBY menjadi pelaksana hariannya,
pimpinan tertinggi adalah Presiden Megawati. Sejumlah pasukan yang
dikirim dengan kapal, sampai setengah bulan terkatung-katung di tengah
laut, karena SBY tak juga memutuskan sikap pemerintah untuk pendaratan
pasukan itu. Malah ada yang bilang, pasukan itu sempat tiga hari
kelaparan, karena persediaan makanan sudah habis.

Akhirnya, di tengah moral pasukan yang sudah hancur seperti itu,
barulah mereka didaratkan, konon setelah Presiden Megawati turun
tangan. SBY? Seperti biasa, tak bisa membuat keputusan berisiko
seperti itu. Hobinya, cuma berbusa-busa bicara di TV dan koran, dengan
bahasa yang selalu normatif karena takut berisiko kalau ucapannya
salah- tapi disusun sesuai kaedah berbahasa Indonesia yang baik dan
benar. Tanyakanlah pada kawan dan lawannya, tentang cacat SBY itu.

Jawabannya pasti tak jauh berbeda: SBY tak bisa mengambil keputusan.
Mana mungkin seorang bisa menjadi pemimpin apalagi menjadi Presiden,
pengambil keputusan tertinggi yang sering penuh risiko dengan cacat
personaliti yang sangat fatal seperti itu? Ini menjadi alasan pertama
dan utama bagi rakyat untuk tidak memilih SBY si peragu.

 

 

Dari: Milis AIPI

3 Tanggapan

  1. aku pilih JK lah kalo gitu.

  2. jadi bingung nih
    mau milih siapa

  3. bicaranya emang terlalu normatif tidak bisa diaplikasikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: