Kisah Percikan Air di Dulang (Bisnis Keluarga SBY)

KISAH PERCIKAN Air di Dulang

  

SBY mengkritik keras pejabat dan keluarganya yang berbisnis. Padahal, keluarganya sendiri tidak steril dari bisnis. Menepuk air di dulang, memercik muka sendiri.

 

EDHIE Baskoro Yudhoyono baru selesai menempuh pendidikan diplomanya di Curtin University of Technology, Perth, Western, Australia, 26 Februari 2005, ketika keluarga Cikeas menggelar rapat keluarga untuk membahas masa depan putra bungsu SBY itu. Materi pembicaan seputar keinginan Ibas—demikian sapaan lajang kelahiran Bandung, 24 November 1980 itu—untuk menerapkan dua gelar diploma yang diraihnya selama tujuh tahun, Bachelor of Commerce Finance dan Electronic Commerce, ke dunia kerja.

 

Namun, pembicaraan yang berlangsung serius tapi santai itu menemui jalan buntu. Posisi SBY sebagai presiden membuat mereka kesulitan mencari kata temu untuk menentukan bisnis apa yang cocok untuk Ibas. SBY dan anak-istrinya tentu tidak bisa sembarangan melakukan bisnis. “SBY sangat memahami hal itu,” ujar sumber di lingkungan keluarga Cikeas kepada Indonesia Monitor, pekan lalu.

 

Alhasil, obrolan keluarga yang diselingi hidangan singkong goreng, jajanan pasar, dan teh manis itu pun tidak menghasilkan putusan apapun. Sebagai kepala keluarga, SBY berusaha membesarkan hati putra kesayangannya itu. “Nggak usah buru-buru. Insya Allah, nanti pasti akan ada jalan,” ujar SBY, seperti diungkapkan sumber.

 

Hingga suatu hari, masih menurut sumber, kegalauan keluarga Cikeas itu sampai ke telinga seorang konglomerat pemilik usaha food manufacture, salah satu produknya adalah kopi bubuk kemasan merek terkenal. Selama ini, pengusaha keturunan itu sudah kenal dekat dengan keluarga Cikeas. “Dia menawarkan diri untuk mendidik Ibas berbisnis,” ungkapnya.

 

Mendapat tawaran seperti itu, SBY tak serta-merta menyetujuinya. Bahkan, menurut sumber, ia terlihat keberatan. Namun, tidak demikian dengan Kristiani Herrawati. Istri SBY yang biasa disapa Ani Yudhoyono itu, menurut sumber, terlihat merespon tawaran tersebut. SBY pun akhirnya setuju, tapi dengan catatan: bisnisnya tidak terkait dengan bisnis pemerintah.

 

Meski diperbolehkan berbisnis, namun Ibas diminta untuk melanjutkan sekolah dulu di tingkat master. Secara kebetulan, Agus Harimurti, sang kakak yang dinas di militer, juga akan melanjutkan studi. Mereka sama-sama memilih Nanyang Technological University (NTU) Singapura sebagai tujuan studi. Bedanya, Agus mengambil master di bidang Strategic Studies di Institute of Defence and Strategic Studies, sementara Ibas gelar M.Sc International Political Economy di S Rajaratnam School of International Studies NTU.

 

Sekitar 1,5 tahun mereka berhasil menyelesaikan studinya masing-masing. . Agus kembali berdinas di militer, tepatnya di Yonif Linud 305/Tengkorak, Kostrad, sementara Ibas mulai menyiapkan bisnisnya. Untuk mendalami bisnis yang bakal digeluti, suatu hari Ibas diajak jalan-jalan ke beberapa negara di Eropa dan ke Cina.

 

Saat itu, menurut sumber, sempat terjadi ketegangan antara SBY dan Ani.. Sebab, SBY tidak tahu Ibas sedang jalan-jalan ke luar negeri. “SBY lantas meminta Ibas untuk segera kembali ke Indonesia. Dia tidak ingin ada omongan orang, Ibas jalan-jalan sama konglomerat ke luar negeri. Dia sangat menjaga posisinya sebagai presiden,” ungkapnya.

 

Beruntung, kepergian Ibas tidak sampai memunculkan kontroversi. Rencana menjalankan bisnis pun segera direalisasikan. Langkah pertama adalah menentukan core bisnis yang  akan digarap mereka. Sesuai syarat dari ayahnya, Ibas dan “suhu bisnisnya” sepakat memproduksi biskuit dengan merek dagang Bisco di bawah bendera PT Gala Pangan.

 

Setelah itu, mereka mencari lokasi pabrik. Yang dipilih sebagai basis usahanya adalah kawasan industri Jababeka 2, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, sekitar 35 km arah timur Jakarta, tepatnya di Jalan Industri IV Blok PP-3.

 

Menurut sumber, lokasi PT Gala Pangan berada di bagian belakang kawasan industri Jababeka. Jalanan masuk ke lokasi dulunya rusak parah. “Namun, setelah tahu di situ dibangun pabrik milik Ibas, pihak pengelola Jababeka langsung meng-hotmix jalan menuju kawasan tersebut,” tuturnya.

 

Tak hanya aspal hotmix. Sesuai kebutuhan, pabrik dengan omzet 1-2,5 juta dolar AS itu membutuhkan gas LPG dalam jumlah banyak untuk mengaktifkan pengovenan. Saat itu, pipa gas LPG belum masuk kawasan itu. “Tak selang lama, pipa gas dibangun masuk ke kawasan tersebut,” ujarnya.

 

Kini, PT Gala Pangan sudah berproduksi. Dengan memperkerjakan karyawan sebanyak 150 orang, biskuit produk Gala Pangan dilempar ke pasar ekspor, meliputi pasar-pasar utama di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa Barat, Eropa Timur, Asia Timur, Asia Tenggara, Afrika, dan Oceania.

 

Ketika Indonesia Monitor berkunjung ke pabrik tersebut, Jumat (12/6) pagi, suasana masih terlihat sepi.. Lokasi PT Gala Pangan cukup mewah dan strategis. Dibanding pabrik-pabrik lain di kawasan tersebut, Gala Pangan tampak istimewa.

 

Pagarnya bagus, halamannya luas, dan bangunan gedungnya terlihat rapi. Terletak di sebuah pertigaan Jalan Industri Selatan IV dan Jalan Industri Selatan V, pabrik Gala Pangan terbagi dalam tiga bagian utama, yakni di bagian depan untuk kantor, bagian sisi kiri dan kanan untuk produksi dan gudang. Halaman parkir cukup luas.

 

Namun, yang paling istimewa adalah saat pabrik tersebut akan dibangun. “Peletakan batu pertama oleh Pak SBY,” ujar seorang sekuriti PT Gala Pangan kepada Indonesia Monitor. Dia menuturkan, pabrik kue tersebut memang milik Ibas. Pada awal-awal produksi, Ibas sering datang ke pabrik tersebut.

 

Tapi, menurut dia, akhir-akhir ini Ibas jarang berkunjung. “Pak Ibas sudah lama tidak ke sini. Sejak maju sebagai caleg, dia jarang ke sini, mungkin sibuk,” ujarnya. Dalam ingatannya, Ibas terakhir datang ke pabriknya sekitar lebaran haji tahun lalu. “Itu pun hanya sebentar,” imbuhnya.

 

Menurut sekuriti yang namanya dirahasiakan, ia tidak tahu mengapa Ibas jarang berkunjung ke pabrik miliknya. “Sepengetahuan saya, Pak Ibas masih menjadi komisaris di sini. Sebab dulu sebelum maju jadi caleg, dia sering datang ke sini, sekarang saja yang agak jarang,” lanjutnya.

 

Keterlibatan Ibas dalam bisnis biskuit secara implisit dibenarkah oleh Staf Khusus Ibu Negara Ani Yudhoyono, Nurhayati Ali Assegaf. Awalnya, Wasekjen Partai Demokrat itu tidak mau mengaku soal bisnis Ibas. “Saya nggak tahu, jujur saya nggak tahu,” ujar Nurhayati kepada Indonesia Monitor, Kamis (11/6).

 

Setelah ddesak, akhirnya ia mengakui, meski tidak yakin. “Jujur saya nggak tahu kalau Mas  Ibas  punya pabrik itu. Saya memang pernah dengar Mas Ibas, kalau nggak salah, berbinis  kue kering. Itu kalau nggak salah ya. Tapi, pastinya saya nggak tahu bisnis apa. Yang saya tahu, Mas Ibas di politik,” paparnya.

 

Namun, kalau pun benar berbisnis, menurut Nurhayati, tidak ada salahnya, karena bisnis yang digeluti adalah di sektor swasta dan tidak terlibat kerjasama dengan perusahaan BUMN maupun BUMD. “Apa salahnya anak presiden berbisnis,” gugatnya.

 

Argumen Nurhayati didukung oleh Sekjen DPP Partai Demokrat Marzuki Alie. Menurutnya, yang dimaksud larangan berbisnis, seperti yang pernah dilontarkan SBY, adalah berbisnis dengan mengambil dana APBN.

 

“Itu konkretnya. Kalau ada anak pejabat berbisnis, punya pabrik, punya industri yang tidak ada kaitannya dengan pemerintah, tidak ada kaitannya dengan APBN, ya boleh-boleh saja kan,” ujar Marzuki Alie kepada Indonesia Monitor, Selasa (9/6).

 

Lantas, siapa yang “ditembak” SBY dengan pernyataannya? “SBY tidak meng-address kepada seseorang. Dia menyatakan bahwa pemerintahan 2009-2014, saya dan Pak Boediono Insya Allah bebas conflict of interest,” tegasnya.

 

Benarkah? Tanyakan saja pada hotmix, pipa gas LPG, dan batu pertama yang diletakkan SBY di pabrik kue kering milik putra bungsunya itu.

 

■  Sri Widodo, Moh Anshari

http://www.indonesi a-monitor. com/main/ index.php? option=com_ content&task=view&id=2473&Itemid=33

3 Tanggapan

  1. wah??????

  2. GCG nya bagaimana nih?

  3. apa ya tanggapan sby mengenai ini ?
    Ingin rasanya aku mendengarnya di debat capres putaran terakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: