Strategi Baru Mafiaceli (Tim Sukses SBY): Blame to black

[dikutip dari milis AIPI Politik]

From: Isra Ramli isera12@yahoo. com
Date: Wednesday, July 1, 2009, 8:01 PM

artikel menarik dari politikana.. .
IR

———— ——— ——— ——— ——— ——— –
Blame to Black, Strategi Baru Mafiaceli

Dari Ende, Flores, Celi mengirimkan sebuah surat dengan gagah
sebagai tanggapan terhadap somasi yang dilayangkan oleh tim sukses JK
Wiranto atas pernyataan Celi yang meminta JK meminta maaf karena
beredarnya selebaran yang berisi “fitnah” tentang istri Boediono yang
Katholik pada saat kampanye JK di Medan beberapa hari yang lalu. Tentu
saja itu surat bukan sembarang surat, tampaknya sudah dipersiapkan
dengan baik bahkan mungkin jauh-jauh hari sebelum JK berkampanye di
Medan. Dalam surat itu, Celi menerangkan bahwa dia tidak akan pernah
meminta maaf karena pernyataan itu karena keyakinannya pada kebenaran.
Di akhir surat itu, sang mafiaceli menulis penuh ironi, “Persoalan
ini adalah persoalan prinsip yang melebihi persaingan politik.  Pemilu
boleh datang dan pergi, pemimpin boleh naik dan turun — tapi
prinsip-prinsip itu bersifat abadi.  Kita tidak boleh berbohong dalam
mengedarkan informasi.  Kita tidak boleh bersikap diskriminatif
terhadap penganut agama lain.  Dan kita tidak boleh melepaskan
tanggungjawab dalam perkara sepenting ini”. Wah ini luar biasa sekali, Mafiaceli berbicara tentang prinsip, saya nyaris jatuh hati padanya.

Tetapi sepandai-pandai Celi bermuslihat, akhirnya belangnya ketahuan
juga. Semua ini tidak lebih dari skenario tunggal dengan alur yang
dibikin agak membingungkan khas Mafiaceli. Bagian penting dari prinsip
politik yang keji adalah mengaburkan kebenaran dengan menimpakan semua
kesalahan kepada lawan. Mafiaceli ternyata belum lulus dari sekolah
intelijen Ohio-Langley, William “Bill” Lieddle perlu mengevaluasi
kemampuan murid kesayangannya ini. Adalah pengakuan Adi sang penyebar
selebaran pada saat kampanye JK yang menghancurkan skenario canggih
Mafiaceli. Sebagaimana diberitakan oleh Tempo Interaktif, Adi bersama
dua orang lainnya menyebarkan selebaran itu atas perintah dari tim
sukses SBY- Boediono yang dalam hal ini dikoordinasikan oleh Abdul
Wahab Dalimunthe. Maka hancurlah semua skenario indah
“Medan-Jakarta- Ende” Mafiaceli. Bila permasalahan ini ditelusuri dengan
teliti maka akan sulit bagi trio Mafiaceli untuk mengelak dari skenario
ini. Tetapi menurut saya, sudahlah tidak usah diperpanjang, kenapa
harus heran dengan cara-cara keji Mafiaceli, bukankah itu keseharian
yang kita terima begitu saja.

Blame to Black Campaign; sebenarnya ini skenario sederhana tetapi
hanya akan dilakukan hanya oleh orang-orang yang pikirannya keji
seperti Mafiaceli. Caranya sederhana, pilih isu sensitif yang selama
ini menjadi senjata lawan, gunakan isu itu untuk kepentingan sendiri.
Koordinasikan beberapa orang untuk menyiapkan isu sebagaimana yang
selama ini digunakan oleh lawan, pertajam sehingga benar-benar menohok
diri sendiri, lalu sebarkan di tengah massa lawan. Sediakan jeda waktu
sehari dua hari agar pers terus mengupasnya. Sebelum lawan bereaksi,
lemparkan tuntutan. Setelah reaksi lawan diterima, gunakan argumen yang
terkesan sehat untuk melibas pembelaan diri lawan. Politik ini sangat
efektif, karena Mafiaceli menyediakan materi Black Campaign yang justru
kesalahannya akan ditimpakan kepada lawan. Skenario Celi
ini nyaris sempurna, sebab dia merencanakan dimana Black Campaign itu
akan diluncurkan, pada saat kapan di Jakarta dia akan melemparkannya
dan dia tentukan pula tempat bersejarah, Ende, sebagai tempat untuk
menuliskan pembelaannya pada prinsip-prinsip demokrasi.

Celi memilih Medan lewat perhitungan yang cermat. Karena kekejian
hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang yang memiliki kebencian yang
sangat, maka Celi mendapatkan tempat dan orang yang tepat. Medan adalah
pusat koordinasi wilayah I pemenangan SBY-Boediono yang dipimpin oleh
Abdul Wahab Dalimunthe. Siapakah Wahab Dalimunthe ini? Tentu Mafiaceli
tidak sembarang memilih bidak. Dia adalah mantan Ketua DPD I Partai
Golkar Sumut dan kemudian Ketua Dewan Penasihat DPD I Golkar Sumut.
Pada tahun 2008 lalu, Wahab maju mencalonkan diri sebagai Gubernur
Sumut. Tetapi sayang sekali, keinginannya itu tidak didukung oleh DPP
Golkar yang lebih merestui walikota Binjai, Ali Umri untuk maju.
Sedangkan di tingkatan massa Golkar Sumut mereka lebih memilih Samsul
Arifin yang akhirnya memenangkan Pemilihan Gubernur Sumut. Hasilnya
Wahab Dalimunthe menempati urutan buncit dari empat kandidat. Urutan
buncit bagi seorang dedengkot Partai Golkar Sumut tentu suatu hal yang
sangat memalukan. Wahab merasa telah dipermalukan oleh DPP Golkar yang
dipimpin oleh Jusuf Kalla. Rasa malu berubah jadi benci
dan kebencian yang sangat itulah yang kemudian diperalat oleh Celi..
Dia tinggal menyiapkan konten untuk black campaign, sementara Wahab
memilih orang. Waktunya ditentukan sesuai jadwal kampanye JK.
 
Operasi intelijen Mafiaceli mulai berjalan. Sore harinya, isu black
campaign oleh tim JK Wiranto mulai dihembuskan. Di Jakarta Celi
menunggu perkembangan, tentu sambil tidak sabar menunggu waktu yang
tepat untuk menyampaikan pernyataan balasan yang telah dia siapkan
jauh-jauh hari. Sesuai harapan Celi, isu berkembang dengan cepat.
Sehari kemudian, dia menyampaikan tuntutan agar JK menyampaikan
permintaan maaf. Celi tahu tim JK akan bereaksi, dan pasti bentuknya
somasi. Pada saat tim JK Wiranto bereaksi sesuai yang dia kehendaki,
Celi tahu dimana tempat untuk membalas somasi itu dengan pernyataan
yang heroik, dia sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Celi segera
terbang menemani Boediono dalam kampanye di Ende Flores. Ende adalah
tempat yang sempurna untuk mengukuhkan prinsip-prinsip demokrasi,
bukankah di tempat itu Bung Karno dulu dibuang karena perjuangannya
menuntut kemerdekaan Indonesia. Lah, ternyata setelah gagal menjadikan
dirinya Obama van Indonesia, Celi tiba-tiba ingin jadi Sukarno pula. Di
Ende, Celi tinggal menyambungkan notebook nya dengan koneksi internet.
Pernyataan yang telah dia tulis jauh hari sebelum kasus ini terjadi
dikirimkan ke semua media, mailing list dan saluran informasi lainnya.
Selama beberapa jam Celi telah merasa akan menjadi presiden Indonesia
2014, sayang mimpinya itu terbunuh lewat pengakuan Adi.

Sebenarnya skenario Blame to Black ini bisa berjalan dengan
sempurna, sayangnya Celi salah memilih orang untuk menjadi partner in
crime. Wahab Dalimunthe, pecundang pilkada itu sudah berumur 69 tahun.
Tentu saja akal sehatnya sudah terkuras untuk bisa memilah agen yang
tepat untuk melaksanakan semua rencananya. Wahab salah memilih orang,
rencana sempurna Celi jadi berantakan. Inilah kesalahan mendasar
Mafiaceli, trio ini terlalu bersemangat sampai lupa menyiapkan detail
rencana termasuk masalah usia partner in crime mereka. Sekarang
semuanya terungkap sudah, tetapi percayalah kita tidak akan kehilangan
hiburan. Mafiaceli tetap akan eksis, sebab setiap kali kena masalah
seperti ini, Celi akan berlindung di ketiak Anto yang pandai bersilat
lidah. Dan seperti biasa, kita akan melupakannya begitu saja. Kekejian
Mafiaceli akan terus merajalela.
sumber: http://politikana. com/baca/ 2009/07/01/ blame-to- black-strategi- baru-mafiaceli. html

Satu Tanggapan

  1. jujur, sejak awal isu ini dihembuskan, saya 1000 yakin bahwa yang terjadi sebenarnya seperti ini..
    masalahnya apakah mereka menganggap saya begitu goblog sehingga begitu saja mau menipui saya dengan isu murahan..
    sekarang kena batunya si celli, mau disuruh mundur sama relawan sby
    http://romailprincipe.wordpress.com/2009/07/02/fox-indonesia-vs-relawan-sby/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: